Dari rangkaian Seminar Refleksi 50 Tahun M Natsir
Perlunya, Mosi Integral Jilid 2
Jangan Biarkan Kezaliman Berlalu Tanpa Kritik
Mosi Integral pada hakikatnya bukan sekadar ajakan untuk kembali, kepada NKRI, namun lebih pada upaya mencari penyelesaian secara komprehensif Persoalan bangsa, terutama menyangkut persatuan bangsa. Setidaknya Ada dua hal yang perlu menjadi refleksi bagi kehidupan bangsa saat ini dari pemikiran M Natsir, yaitu bahwa tantangan zaman pada masa M Natsir adalah persatuan. Tantangan itu dijawab Natsir berupa konsolidasi yang sudah selesai dengan munculnya Mosi Integral. Sementara tantangan saat ini adalah ambruknya kedaulatan hukum. Perlu pemerintah itu tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan harus responsif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
”Ketika Universitas Islam Indonesia (UII), Yogya, memberikan penghargaan kepada Mohammad Natsir, dia kaget dan menolak menerima pemberian itu secara langsung. Alasannya karena khawatir dengan penguasa saat itu yang akan menindak UII. Karena waktu itu memang Natsir masih dianggap sebagai lawan pemerintah.”
Begitulah cara Prof DR Moh Mahfud MD membuka Seminar Publik Refleksi 58 Tahun Mosi Integral M Natsir Merawat NKRI Menghempang Potensi Disintegrasi Bangsa yang diselenggarakan FISIP Universitas Soedirman Purwokerto, Rabu 9/8. Kalau dalam konteks 58 tahun maka ini adalah seminar internasional, karena pembicara seperti Prof Dr Mahfud dari negara Madura, Fauzan dari Negara Banyumas dan Yudi Latif dari negara Pasundan.
Menurut Mahfud yang kini menjadi anggota Mahkamah Konstitusi, dalam Mosi Integral Natsir ada dua hal yang perlu dicermati. Pertama, Ketidakpuasan pada pemerintah yang bersikap pasif dalam mengatasi persoalan-persoalan. Semua terserah rakyat, begitu sikap pemerintah. “Apa kita akan biarkan dan menerima resiko-resikonya?” kata Mahfud mengulang pernyataan Natsir kala itu.
Kedua, Sejak awal Natsir ingin Persatuan. “Apapun bentuknya apakah itu Federal atau kesatuan,” simpul Mahfud
Menurut Mahfud, Natsir Menekankan Mosi integral tidak ke negara kesatuan. Dalam pandangan Mahfud, Mosi itu keluar dengan semangat, pokoknya asal bersatu. Lalu apa bedanya? Menurut Mahfud persatuan adalah sikap batin. Sedangkan Kesatuan adalah Sistem. “Jadi semangat dari mosi adalah persatuannya,” tegas Mahfud.
Dalam pandangan Mahfud, iklim politik saat Natsir di tahun 50-an itu terjadi disintegrasi ditandai dengan federalisme. Tapi, bisa diselesaikan dengan mosi integralnya Natsir. Sekarang tantangannya adalah lemahnya penegakkan hukum. Orang sudah mulai bicara, Buat apa pemerintah?. Mengapa begitu, karena tidak adanya penegakkan hukum yang adil dan merata. Hukum masih tebang pilih.
Dalam kesempatan seminar itu, Mahfud mengingatkan pemerintah agar jangan memble. Dalam asumsi Mahfud, dasar dari terbitnya mosi integral itu karena Natsir kecewa dengan sikap pemerintah yang defensif. ”Seharusnya pemerintah berbuat,” kata Mahfud.
Sedangkan pembicara lain, DR Fauzan FISIP Unsoed yang menggantikan Ryaas Rasyid memaparkan, Saat ini orang mempertahankan bentuk negara kesatuan tapi sebenarnya kini sudah menjadi negara Federal. Dosen Fisip Unsoed itu mengambil contoh Pilkada, Lihat bagaimana Pilkada itu berlangsung. Dengan otonomi daerah yang kebablasan orang seenaknya saja membuat perda. “Bahkan telor asin saja kena pajak retrribusi,” kata Fauzan.
Lebih lanjut Fauzan mengungkapkan, gubernur dipilih dengan biaya yang besar. Akibatnya ada Gubernur yang tidak mau datang memenuhi undangan Pemerintah Pusat.
Lain halnya dengan DR Yudi Latif, yang menampilkan M Natsir dari sisi lain. Kenapa penyelenggaraan ini dilaksanakan di Unsoed? Karena paling tidak ada tiga nama dalam sejarah Indonesia modern yang mengacu pada persatuan bangsa. Jenderal SUdirman, Syafruddin Prawiranegara dan M Natsir.
Mengapa Natsir sangat penting dalam sejarah modern Indonesia, karena
Natsir bersikap, “Jangan biarkan Kezaliman berlalu tanpa kritik.
Kalau kejadiannya 58 tahun lalu.
Sikap Natsir yang patut menjadi Teladan bagi generasi muda saat ini adalah, figur pemersatu bangsa dimana beliau selalu bisa menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Selain itu Natsir figur konstitusionalis. Sosok yang taat azas. Itu diperoleh karena ketulusan, Natsir figur yang mempunyai penghayatan kokoh dan mendalam dibuktikan dalam kehidupan yang berbudaya dan toleran. Karena tahu ukuran dan kemampuan diri. Ketiga pembicara sepakat implementasi nilai-nilai di atas dimulai dari diri sendiri dengan memilih pemimpin yang memiliki visi dan bersih, integritas dan kredibilitas.
Sementara itu di tempat yang lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, pemerintah mengakui jasa-jasa besar yang telah diperbuat M Natsir terhadap bangsa dan Negara. Salah satu dari jasanya yang tidak akan pernah dilupakan dan yang harus dicatat dalam sejarah adalah mengembalikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Mosi Integral.
Pengakuan tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa pada puncak peringatan Refleksi Seabad M Natsir, Pemikiran dan Perjuangannya, di Hotel Bidakara Jakarta, Jum’at (18/7) malam.
Peringatan Seabad M Natsir tersebut diawali dengan pembacaan kitab suci al- Quran, lagu Indonesia Raya yang dipandu gesekan biola Idris Sardi. Dilanjutkan laporan Ketua Panitia Nasional Seabad M Natsir, Laode Kamaluddin, pembacaan puisi tentang Natsir oleh Taufik Ismail dan sambutan Hatta Radjasa mewakili Presiden.
Para Menteri yang tampak hadir antara lain adalah Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Wakil Ketua MPR AM Fatwa dan Moeryati Soedibyo, tokoh atau pemuka masyarakat Minang di Jakarta Emil Salim, Tarmizi Taher dan Taufik Abdullah, dan keluarga besar M Natsir. Terlihat juga sejarawan Des Alwi, dr Sulastomo dan Faisal Baasir.
Presiden dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Hatta Radjasa mengakui bahwa M Natsir adalah guru bangsa dan Negara yang terhormat, yang memiliki jasa yang sangat besar terhadap bangsa ini. Sangat besar jasanya dalam mengembalikan NKRI. Melalui mosi integralnya, Natsir berhasil mengembalikan NKRI hingga saat ini,” kata Presiden.
Presiden Yudhoyono juga memuji sikap dan prilaku M Natsir, baik sebagai seorang politisi, negarawanan, tokoh agama, cedikiawan, dan budayawan. Karena itu presiden mengajak semua komponen bangsa, termasuk kalangan politisi sekarang ini mencontoh dan meneladani sikap dan prilaku M Natsir yang santun dalam tutur kata, arif dalam berpolitik dan tidak sekalipun dia mengungkapkan kata-kata kasar dan apalagi menghujat.
Meski menyampaikan pujian terhadap perjalanan kehidupan M Natsir, presiden tidak menyinggung sama sekali tentang usulan pengangkatan M Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Kecuali Taufik Ismail di akhir pembacaan pusinya, bahwa M Nastir sudah lebih dari layak untuk diberi penghargaan oleh pemerintah, yaitu sebagai Pahlawan Nasional.
Hanya Presiden menyarankan perlu dilakukan suatu kajian tentang peranan M Natsir agar tidak terjadi kesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam menilai peran Natsir tersebut.
Taufik Ismail dalam puisinya bertutur, bahwa setiap pemimpin mulai dari presiden, politisi dan tokoh masyarakat memiliki karakter masing-masing. Tetapi karakter dan kearifan M Natsir tidak ada duanya. M Natsir lebih mendahulukan sikap bijak dan kearifan dalam setiap langkah yang akan dia tempuh,” ujar Taufik.
Sementara itu ketua panitia Refleksi Seabad M Natsir, Laode Kamaluddin melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan panitia selama 8 bulan terakhir, seperti mengadakan diskusi-diskusi tentang pemikiran dan perjuangan Natsir di sejumlah perguruan tinggi, seperti UIN Jakarta, Universitas Islam Yogykarta, Universitas Islam Riau, Universtas Islam Bandung dan sejumlah kegiatan lainnya dalam mensosialisasikan pemikiran Natsir. “Agar kita tidak melupakan Natsir dan meneruskan cita-citanya sehingga Indonesia kembali berwibawa,” katanya.
Harapan itu tentu milik kita juga. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.
Eman Mulyatman
Laporan Adhes Satria
Komentar Terakhir