Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Mendidik Anak di Era Digital

Sekarang hal-hal berbau porno tak cuma disebarkan tapi dibenamkan ke dalam otak anak kita

Pada mulanya, komputer adalah benda asing yang hanya bisa dijalankan segelintir ahli. Jika kemudian ia menjadi perangkat yang demikian populer, itu adalah berkat orang bervisi terang dan unik akan apa yang dapat dilakukan komputer. Orang itu adalah Douglas Engelbart.

Sebagai sebuah alat, komputer memang benda netral. Persoalannya sekarang mau tidak mau kita sedang memasuki era digital. “Revolusi Digital” begitu orang mengatakannya. Sebaliknya, era kertas sudah memasuki babak akhirnya. Kita diperintahkan Nabi saw agar mendidik anak sesuai dengan zamannya.

Dalam sebuah seminar dengan tema: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital, Elly Risman Musa memaparkan fakta-fakta berkaitan dengan fenomena pornografi pada anak usia Sekolah Dasar (SD).

”Anak kelas 4-5-6: 1 dari 2 anak melihat pornografi di rumah, 1 dari 3 yang nonton berkomentar biasa saja perasaannya menonton itu,” ungkapnya.

Biasa saja alias sudah biasa. Sejauh itukah pornografi merasuki anak-anak kita. Pornografi tidak hanya ada di internet, TV, CD, dan DVD.  Komik-komik Jepang ada yang betul-betul porno. Sekarang, handphone tak kalah dahsyatnya. Termasuk SMS tentunya.

Dalam seminar itu Elly Risman juga menampilkan potongan-potongan sinetron Indonesia yang menyajikan pornografi. Bahkan sinetron itu diputar siang hari. Seperti menampilkan pesta seks anak SMA berseragam.

Keadaan memang mencemaskan dan membuat kita sebagai orang tua geregetan pada orang-orang yang hanya memikirkan cari uang dari film-film panas.

Anak laki-laki menjadi target utama industri pornografi, usia kelas 4-5-6 (anak yang belum baligh). Ternyata penjahat pornografi itu sudah berpikir jauh melampaui langkah para orang tua dalam mendidik anak.

Mengapa sedini mungkin dijadikan target. Tujuannya agar mereka menjadi target masa depan pasar pornografi mereka. Sehingga akhirnya akan menjadi pecandu pornografi seumur hidup.

anak yang sejak kecil akrab dengan porno akan memiliki mental model porno. Otaknya menjadi piktor alias pikiran kotor. Porno menjadi way of life, mau berbuat apa saja berdasarkan otak ngeresnya itu. Maka otaknya menjadi rusak permanen.

Masya Allah. Sering kita lihat baliho film-film dengan judul nyerempet-nyerempet. Buruan Cium Gue (BCG), Married By Accident (MBA), Making Love (ML), DO, Kawin Kontrak, dan lainnya.

Sayangnya kita menganggap itu sebagai hal yang jauh. Tidak akan menimpa keluarga kita. Aman.

Padahal dengan siapa anak kita bergaul di sekolah? Apa isi HP anak kita. Apakah kita punya waktu untuk menemaninya berselancar di ruang maya. Apa game online-nya, situs internetnya?

Mari kita lihat lagi apa yang telah kita lakukan. Sudahkah kita hidup
dalam adab Islam? Menutup aurat, memisahkan tidur anak dari orang tua, mendidiknya tentang dirinya (mani, madzi, cara bersuci aurat, dan lain-lain), melihatnya sebagai titipan Allah,

Menurut psikolog Elly Risman, membiarkan anak hidup sendiri dalam era digital tanpa bimbingan sama halnya melepas anak di kandang macan. “Jika hal ini dibiarkan, maka akan merusak psikis, fisik, dan moral anak,” ujarnya.

Solusinya, masih menurut Elly Risman, jelaskan dampak negatif era digital terhadap anak  dengan cara tanamkan pondasi agama yang kuat terhadap anak, berikan alternatif permainan yang lebih menantang, luangkan waktu untuk melakukan aktivitas dengan anak dan buatlah hidup mereka lebih bermakna.


Tanggapan

  1. permasalalahannya kadang malah timbul dari orang tua sendiri termasuk saya. agama yang ‘cuma apa adanya’ jadinya hanya bisa mengajarkan anak2 saya apa adanya.

    akan lebih parah kalau orang dewasa yang disebut orang tua dengan berbagai argumen dan alasan, menolak untuk terus belajar. maka yang ditransfer ke anak2 bisa jadi hal2 yang salah.

  2. solusi yg ditawarkan Elly Risman penting untuk dioperasionalkan, khususnya tentang “bagaimana cara yg tepat dan benar” untuk menanamkan fondasi agama di maksud? “Bagaimana mengemasnya ‘fondasi’ tsb di era digital? dan seterusnya.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.