Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Derita Seorang Penjaga Masjid

Penyakit ginjal justru membuka jalan bagiku untuk mendapatkan apa yang kuharapkan

Berbilang tahun aku menjadi penjaga masjid, orang biasa menyebutnya marbot. Semua demi satu niat, meraih pahala dan surga Allah SWT. Suatu cita-cita yang memang tak mudah untuk mendapatkannya. Ujian dari Allah berupa penyakit gagal ginjal, membuka jalan bagiku untuk mendapatkan apa yang ku harapkan.
Panggil aku Arif, nama lengkapku Arip Rahman. Aku lahir di Bandung tahun 1968. Di situ aku dibesarkan, tepatnya di Wyata Guna, Jalan Padjajaran No 52 Bandung. Aku tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain. Yang membedakan aku dari mereka, aku hanya mampu menamatkan SD saja. Aku tak memiliki biaya untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Apalagi aku memiliki empat orang adik. Penghasilan orang tuaku sebagai PNS di Departemen Sosial (Depsos) hanya cukup untuk makan.
Karena aku tak sekolah, maka ibuku menyuruhku untuk ikut workshop. Di bengkel kerja itu aku membuat sikat dan sapu. Itu kulakoni hampir dua tahun lamanya. Ternyata hal itu menjadi pengalaman hidup yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu. Jarum jam berjalan tanpa henti. Sekitar tahun 1982 itulah awal mula perubahan terjadi dalam hidupku. Tadinya, aku tak mempedulikan perintah agama. Aku mengabaikan ibadah shalat padahal, aku Muslim. Namun, berkat Ibu Mustofa aku mulai tersadarkan. Aku diberi nasihat soal kewajiban sebagai seorang Muslim. Dia mengatakan, ”Siapa saja orang yang mencintai masjid maka jaminannya adalah surga.”
Perkataan itulah yang membuat aku terpacu untuk mencintai Islam. Maka ketika ada tawaran untuk menjadi penjaga masjid, langsung aku terima. Aku diangkat menjadi marbot masjid Ummi Maktum dengan gaji awal Rp 300.000 sebulan. Jadi marbot aku jalani selama 16 tahun. Gaji itu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sempat pula aku ditawari menjadi PNS , namun hal itu kutolak karena kecintaanku kepada masjid. Yang kupikirkan saat itu adalah urusan akhirat saja karena lebih menjanjikan.
Sebagai penjaga masjid aku biasa melakukan aktivitas seperti menyapu, mengepel, membereskan karpet dan juga membersihkan WC. Terkadang pula aku menjadi muadzin. Karena banyak anak tuna netra yang bisa adzan, tugas itu hanya sekali-kali kulakukan. Meskipun gajiku tak seberapa, tapi rezeki Allah datang dari pintu lain. Aku sering mendapatkan uang dari mereka yang menyisihkan rezekinya bagiku.
Kemudian aku menikah dengan, Iip Latifah pada 1985. Aku bersyukur rumah tanggaku harmonis dengan dua orang anak perempuan. Yang besar duduk di bangku kelas IV SD Padjajaran, Bandung dan yang kecil usianya tiga tahun. Kondisi itu membuatku merasa bahagia. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari aku berjualan bubur ayam, gorengan dan juga makanan ringan dengan menggunakan gerobak.
Alhamdulillah, omzetnya  bisa mencapai Rp 400.000 rupiah per hari. Ujian kembali datang kepadaku di mana pengurus Wyata Guna memindahkan kami untuk berdagang di belakang masjid. Alasannya jualan di depan masjid membuat kumuh. Hasilnya cukup mengagetkan, omzetnya hanya mampu Rp 50.000/hari dan itu dicapai dengan sangat susah.
Di sinilah penderitaanku mulai terasa dan ujian besar jelas muncul di depan mata. Itu terjadi tahun 2005. Akibat omzet semakin kecil aku kemudian dihinggapi stres karena tak bisa terima kenyataan. Lalu  aku memutuskan untuk tidak tidur selama satu bulan termasuk untuk tidak makan minum. Waktu malam hari sengaja aku manfaatkan untuk berdzikir. Entah darimana ide itu datang. Akibatnya, setelah melakukan hal itu aku dihingapi penyakit darah tinggi. Bahkan keadaan semakin memburuk, aku harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung 12 kali.
Hartaku sendiri dan harta orang tuaku terkuras habis untuk biaya pengobatan. Bayangkan, selama tiga malam aku empat kali ditansfusi darah. Itu yang membuatku pusing tiada tertahankan. Istriku mengingatkanku agar selalu beristighfar dan berdzikir kepada Allah SWT. Dia meyakinkan itu merupakan langkah terbaik yang bisa kulakukan. Ia mengatakan sakit yang menimpaku merupakan bentuk ujian dari Allah SWT untuk kelurga kami.
Dengan izin Allah SWT, alhamdulillah aku sembuh dan bisa bangun jam dua malam untuk melakukan shalat tahajud walaupun sambil duduk. Begitu pun shalat wajib lainnya aku lakukan dengan cara duduk pula. Hal itu kulakukan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, ujian tidak berhenti, dokter memvonisku mengalami penyakit gagal ginjal juga. Aku harus melakukan cuci darah sebanyak dua kali dalam sepekan. Apa pun resikonya aku harus melakukan hal itu, bila tidak kematian menjadi semakin dekat. Biaya tidak sedikit sebab satu kali cuci darah membutuhkan Rp 250.000.
Gaji ibuku per bulan habis karena itu. Untuk makan sehari-hari aku terpaksa meminta gaji tujuh bulan ke depan dan dipotong saat gajian. Utang ibuku ke sana ke mari kurang lebih Rp 10 juta dan aku memiliki utang ke masjid sebesar Rp 2.100.000. Sebenarnya aku tak memiliki apa-apa namun, demi kehidupan ku terus berjuang walaupun harus pinjam sana pinjam sini.
Cuci darah yang kulakukan biasanya berlangsung selama empat jam dan dilakukan hari Selasa dan Jumat. Bila hari Jumat usai cuci darah aku selalu sempatkan untuk shalat Jumat. Aku bersyukur ada yang mengantar cuci darah setiap berangkat. Namun, pulangnya aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000 untuk ongkos taksi dan lebih kurang Rp 100.000 disediakan untuk membeli obat yang tidak dijamin oleh Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin.      Beruntung di tengah kegelisahanku,  ada yang memberi modal sebesar Rp 500.000 untuk berdagang dan alhamdulillah bisa untuk makan sehari-hari. Untuk pekerjaan masjid terpaksa aku serahkan kepada istriku karena sudah tak mampu. Jangankan untuk bekerja, jalan 10 meter pun aku merasakan sesak dada sehingga harus beristirahat. Selain itu aku juga  memikirkan bagaimana biaya pengobatanku selanjutnya, apakah selamanya aku harus berutang kepada setiap orang. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik kepadaku.

Seperti dituturkan Arip Rahman kepada Deffy Ruspiyandy

Bagi pembaca yang terketuk hatinya untuk membantu saudara kita Arip,  silakan kirim ke:

Rekening BCA
Eman Mulyatman
KCP KLENDER
412 118 1643

Rekening BSMI
Eman Mulyatman
Capem Kalimalang
0697031963

Rekening Bank Muamalat
Eman Mulyatman
Kantor Kas Pondok Kopi
301.40886.20

konfirmasi:
021-33413279
Laporan akan dimuat dalam rubrik donasi di situs ini


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.