Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Derita Seorang Penjaga Masjid

Penyakit ginjal justru membuka jalan bagiku untuk mendapatkan apa yang kuharapkan

Berbilang tahun aku menjadi penjaga masjid, orang biasa menyebutnya marbot. Semua demi satu niat, meraih pahala dan surga Allah SWT. Suatu cita-cita yang memang tak mudah untuk mendapatkannya. Ujian dari Allah berupa penyakit gagal ginjal, membuka jalan bagiku untuk mendapatkan apa yang ku harapkan.
Panggil aku Arif, nama lengkapku Arip Rahman. Aku lahir di Bandung tahun 1968. Di situ aku dibesarkan, tepatnya di Wyata Guna, Jalan Padjajaran No 52 Bandung. Aku tumbuh dan berkembang layaknya anak-anak lain. Yang membedakan aku dari mereka, aku hanya mampu menamatkan SD saja. Aku tak memiliki biaya untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Apalagi aku memiliki empat orang adik. Penghasilan orang tuaku sebagai PNS di Departemen Sosial (Depsos) hanya cukup untuk makan.
Karena aku tak sekolah, maka ibuku menyuruhku untuk ikut workshop. Di bengkel kerja itu aku membuat sikat dan sapu. Itu kulakoni hampir dua tahun lamanya. Ternyata hal itu menjadi pengalaman hidup yang tak pernah bisa kulupakan.
Waktu pun terus berlalu. Jarum jam berjalan tanpa henti. Sekitar tahun 1982 itulah awal mula perubahan terjadi dalam hidupku. Tadinya, aku tak mempedulikan perintah agama. Aku mengabaikan ibadah shalat padahal, aku Muslim. Namun, berkat Ibu Mustofa aku mulai tersadarkan. Aku diberi nasihat soal kewajiban sebagai seorang Muslim. Dia mengatakan, ”Siapa saja orang yang mencintai masjid maka jaminannya adalah surga.”
Perkataan itulah yang membuat aku terpacu untuk mencintai Islam. Maka ketika ada tawaran untuk menjadi penjaga masjid, langsung aku terima. Aku diangkat menjadi marbot masjid Ummi Maktum dengan gaji awal Rp 300.000 sebulan. Jadi marbot aku jalani selama 16 tahun. Gaji itu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sempat pula aku ditawari menjadi PNS , namun hal itu kutolak karena kecintaanku kepada masjid. Yang kupikirkan saat itu adalah urusan akhirat saja karena lebih menjanjikan.
Sebagai penjaga masjid aku biasa melakukan aktivitas seperti menyapu, mengepel, membereskan karpet dan juga membersihkan WC. Terkadang pula aku menjadi muadzin. Karena banyak anak tuna netra yang bisa adzan, tugas itu hanya sekali-kali kulakukan. Meskipun gajiku tak seberapa, tapi rezeki Allah datang dari pintu lain. Aku sering mendapatkan uang dari mereka yang menyisihkan rezekinya bagiku.
Kemudian aku menikah dengan, Iip Latifah pada 1985. Aku bersyukur rumah tanggaku harmonis dengan dua orang anak perempuan. Yang besar duduk di bangku kelas IV SD Padjajaran, Bandung dan yang kecil usianya tiga tahun. Kondisi itu membuatku merasa bahagia. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari aku berjualan bubur ayam, gorengan dan juga makanan ringan dengan menggunakan gerobak.
Alhamdulillah, omzetnya  bisa mencapai Rp 400.000 rupiah per hari. Ujian kembali datang kepadaku di mana pengurus Wyata Guna memindahkan kami untuk berdagang di belakang masjid. Alasannya jualan di depan masjid membuat kumuh. Hasilnya cukup mengagetkan, omzetnya hanya mampu Rp 50.000/hari dan itu dicapai dengan sangat susah.
Di sinilah penderitaanku mulai terasa dan ujian besar jelas muncul di depan mata. Itu terjadi tahun 2005. Akibat omzet semakin kecil aku kemudian dihinggapi stres karena tak bisa terima kenyataan. Lalu  aku memutuskan untuk tidak tidur selama satu bulan termasuk untuk tidak makan minum. Waktu malam hari sengaja aku manfaatkan untuk berdzikir. Entah darimana ide itu datang. Akibatnya, setelah melakukan hal itu aku dihingapi penyakit darah tinggi. Bahkan keadaan semakin memburuk, aku harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung 12 kali.
Hartaku sendiri dan harta orang tuaku terkuras habis untuk biaya pengobatan. Bayangkan, selama tiga malam aku empat kali ditansfusi darah. Itu yang membuatku pusing tiada tertahankan. Istriku mengingatkanku agar selalu beristighfar dan berdzikir kepada Allah SWT. Dia meyakinkan itu merupakan langkah terbaik yang bisa kulakukan. Ia mengatakan sakit yang menimpaku merupakan bentuk ujian dari Allah SWT untuk kelurga kami.
Dengan izin Allah SWT, alhamdulillah aku sembuh dan bisa bangun jam dua malam untuk melakukan shalat tahajud walaupun sambil duduk. Begitu pun shalat wajib lainnya aku lakukan dengan cara duduk pula. Hal itu kulakukan untuk bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, ujian tidak berhenti, dokter memvonisku mengalami penyakit gagal ginjal juga. Aku harus melakukan cuci darah sebanyak dua kali dalam sepekan. Apa pun resikonya aku harus melakukan hal itu, bila tidak kematian menjadi semakin dekat. Biaya tidak sedikit sebab satu kali cuci darah membutuhkan Rp 250.000.
Gaji ibuku per bulan habis karena itu. Untuk makan sehari-hari aku terpaksa meminta gaji tujuh bulan ke depan dan dipotong saat gajian. Utang ibuku ke sana ke mari kurang lebih Rp 10 juta dan aku memiliki utang ke masjid sebesar Rp 2.100.000. Sebenarnya aku tak memiliki apa-apa namun, demi kehidupan ku terus berjuang walaupun harus pinjam sana pinjam sini.
Cuci darah yang kulakukan biasanya berlangsung selama empat jam dan dilakukan hari Selasa dan Jumat. Bila hari Jumat usai cuci darah aku selalu sempatkan untuk shalat Jumat. Aku bersyukur ada yang mengantar cuci darah setiap berangkat. Namun, pulangnya aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 30.000 untuk ongkos taksi dan lebih kurang Rp 100.000 disediakan untuk membeli obat yang tidak dijamin oleh Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin.      Beruntung di tengah kegelisahanku,  ada yang memberi modal sebesar Rp 500.000 untuk berdagang dan alhamdulillah bisa untuk makan sehari-hari. Untuk pekerjaan masjid terpaksa aku serahkan kepada istriku karena sudah tak mampu. Jangankan untuk bekerja, jalan 10 meter pun aku merasakan sesak dada sehingga harus beristirahat. Selain itu aku juga  memikirkan bagaimana biaya pengobatanku selanjutnya, apakah selamanya aku harus berutang kepada setiap orang. Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik kepadaku.

Seperti dituturkan Arip Rahman kepada Deffy Ruspiyandy

Bagi pembaca yang terketuk hatinya untuk membantu saudara kita Arip,  silakan kirim ke:

Rekening BCA
Eman Mulyatman
KCP KLENDER
412 118 1643

Rekening BSMI
Eman Mulyatman
Capem Kalimalang
0697031963

Rekening Bank Muamalat
Eman Mulyatman
Kantor Kas Pondok Kopi
301.40886.20

konfirmasi:
021-33413279
Laporan akan dimuat dalam rubrik donasi di situs ini

Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Manusia dan Ideologi

Bangsa ini butuh kehangatan ideologi

Falsafah dasar perjuangan merupakan pemikiran mendasar (al-fikru al-asasi), dari sana lahirlah sistem yang disepakati. Tujuannya untuk menunjukkan jalan agar tidak sesat.  Falsafah dasar meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem manusia. Tujuan ini mengkristal dalam bentuk ideologi.

Insiden Monas mencengangkan kita. Berikutnya mengalir menjadi sebuah berita yang menguasai agenda setting. Lihatlah pemberitaan di media massa, diulang dan terus diulang. Orang segera menganalisis macam-macam. Kesimpulan memang tidak satu. Tapi, korban sudah jelas, umat Islam.

Benarkah media tidak berpihak? Padahal untuk menguap saja harus ada usaha. Ada sangkut pautnya, bisa karena lapar atau letih. Apalagi sebuah media yang dikelola puluhan orang dan untuk dibaca ratusan, bahkan ribuan orang. Sebuah media dibuat berdasarkan visi dan misi. Visi dan misi dibuat berdasarkan falsafah hidup, lalu dijabarkan dalam sebuah kebijakan redaksional.

Meski jurnalis berteriak mengingatkan tentang independensi, tetap saja kita temukan: koran partai, media ormas atau televisi yang mengkhususkan pada program siaran tertentu. Jelas ada tujuan dan keberpihakan.

Semua berangkat dari niat. Falsafah dasar perjuangan merupakan pemikiran mendasar (al-fikru al-asasi), dari sana lahirlah sistem yang disepakati. Tujuannya untuk menunjukkan jalan agar tidak sesat.  Falsafah dasar meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem manusia. Tujuan ini mengkristal dalam bentuk ideologi.

Islam mengajarkan berjamaah, maka seorang aktivis Islam tidak berhenti pada kepuasaannya dengan ideologi. Konsep ini harus diturunkan kepada murid atau santrinya dalam bentuk konsolidasi. Sampai keyakinannya itu menjadi rujukan dalam membangun kepemimpinan opini publik (opini on leader).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas sehingga  memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup. Ideologi adalah  cara berpikir seseorang atau suatu golongan.

Ideologi  politik bisa berarti  sistem kepercayaan yang menerangkan dan membenarkan suatu tatanan politik yang ada. Tatanan yang dicita-citakan dan memberikan strategi berupa prosedur, rancangan, instruksi, serta program untuk mencapainya. Ideologi politik adalah himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang menjadi dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian. Solusi atas problem politik yang dihadapi. Ideologi ini menentukan tingkah laku politik. Maka, tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa ideologi.

Manusia tanpa ideologi hanya akan mengejar kemajuan material, namun mengalami kehampaan dalam aspek emosional dan spiritual. Sehingga teralienasi dan kehilangan identitasnya yang sejati, lalu mereka mengalami disorientasi dan kegersangan hidup.

Ideologi adalah peta yang menunjukkan arah bagi aktivis untuk bergerak menggulirkan agenda dan aksi-aksinya. Karenanya ideologi menyediakan elan vital, etos dan semangat rela berkorban. Ideologi adalah ide dan utopi, konsep dan keyakinan, pemahaman dan komitmen. Refleksi keyakinan ideologis, dibungkus dalam satu kata: Militansi.

Tanpa ideologi sama saja manusia berjalan tanpa arah tujuan. Berlari mengejar peradaban materi namun hampa dalam aspek emosi dan spirit. Kehilangan identitas yang sejati, mengalami disorientasi dan kegersangan hidup. Coba, di manakah cerita romantisme kepahlawanan ditemukan? Di ranjang atau di medan juang?

Bangsa ini perlu kembali menata cara pandang. Membangun obsesi, membiakkan mimpi, memfokuskan masa depan, membangun gairah dan militansi. Pancangkan cita-cita besar yang hidup dan terasakan di dalam hati. Sehingga energi bangsa ini tidak terbuang dalam gerak chaotic melingkar, namun mengalir sinergis dan fokus. Artinya kita butuh kehangatan ideologi.

Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Perlunya, Mosi Integral Jilid 2

Dari rangkaian Seminar Refleksi 50 Tahun M Natsir

Perlunya, Mosi Integral Jilid 2

Jangan Biarkan Kezaliman Berlalu Tanpa Kritik

Mosi Integral pada hakikatnya bukan sekadar ajakan untuk kembali, kepada NKRI, namun lebih pada upaya mencari penyelesaian secara komprehensif  Persoalan bangsa, terutama menyangkut persatuan bangsa. Setidaknya Ada dua hal yang perlu menjadi refleksi bagi kehidupan bangsa saat ini dari pemikiran M Natsir, yaitu bahwa tantangan zaman pada masa M Natsir adalah persatuan. Tantangan itu dijawab Natsir berupa konsolidasi yang sudah selesai dengan munculnya Mosi Integral. Sementara tantangan saat ini adalah ambruknya kedaulatan hukum. Perlu pemerintah itu tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan harus responsif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

”Ketika Universitas Islam Indonesia (UII), Yogya, memberikan penghargaan kepada Mohammad Natsir, dia kaget dan menolak menerima pemberian itu secara langsung. Alasannya karena khawatir dengan penguasa saat itu yang akan menindak UII. Karena waktu itu memang Natsir masih dianggap sebagai lawan pemerintah.”

Begitulah cara Prof DR Moh Mahfud MD membuka  Seminar Publik Refleksi 58 Tahun Mosi Integral  M Natsir Merawat NKRI Menghempang Potensi Disintegrasi Bangsa yang diselenggarakan FISIP Universitas Soedirman Purwokerto, Rabu 9/8. Kalau dalam konteks 58 tahun maka ini adalah seminar internasional, karena pembicara seperti Prof Dr Mahfud dari negara Madura, Fauzan dari Negara Banyumas dan Yudi Latif dari negara Pasundan.

Menurut Mahfud yang kini menjadi anggota Mahkamah Konstitusi, dalam Mosi Integral Natsir ada dua hal yang perlu dicermati. Pertama, Ketidakpuasan pada pemerintah yang bersikap pasif dalam mengatasi persoalan-persoalan. Semua terserah rakyat, begitu sikap pemerintah. “Apa kita akan biarkan dan menerima resiko-resikonya?” kata Mahfud mengulang pernyataan Natsir kala itu.

Kedua, Sejak awal Natsir ingin Persatuan. “Apapun bentuknya apakah itu Federal atau kesatuan,” simpul Mahfud

Menurut Mahfud, Natsir Menekankan Mosi integral tidak ke negara kesatuan. Dalam pandangan Mahfud, Mosi itu keluar dengan semangat, pokoknya asal bersatu. Lalu apa bedanya? Menurut Mahfud persatuan adalah sikap batin. Sedangkan Kesatuan adalah Sistem. “Jadi semangat dari mosi adalah persatuannya,” tegas Mahfud.

Dalam pandangan Mahfud, iklim politik saat Natsir di tahun 50-an itu terjadi disintegrasi ditandai dengan federalisme. Tapi, bisa diselesaikan dengan mosi integralnya Natsir. Sekarang tantangannya adalah lemahnya penegakkan hukum. Orang sudah mulai bicara, Buat apa pemerintah?. Mengapa begitu, karena tidak adanya penegakkan hukum yang adil dan merata. Hukum masih tebang pilih.
Dalam kesempatan seminar itu, Mahfud mengingatkan pemerintah agar  jangan memble. Dalam asumsi Mahfud, dasar dari terbitnya mosi integral itu karena Natsir kecewa dengan sikap pemerintah yang defensif. ”Seharusnya pemerintah berbuat,” kata Mahfud.

Sedangkan pembicara lain, DR Fauzan FISIP Unsoed yang menggantikan Ryaas Rasyid memaparkan,  Saat ini orang mempertahankan bentuk negara kesatuan tapi sebenarnya kini sudah menjadi negara Federal. Dosen Fisip Unsoed itu mengambil contoh Pilkada, Lihat bagaimana Pilkada itu berlangsung. Dengan otonomi daerah yang kebablasan orang seenaknya saja membuat perda. “Bahkan telor asin saja kena pajak retrribusi,” kata Fauzan.

Lebih lanjut Fauzan mengungkapkan, gubernur dipilih dengan biaya yang besar. Akibatnya ada Gubernur yang tidak mau datang memenuhi undangan Pemerintah Pusat.

Lain halnya dengan DR Yudi Latif, yang menampilkan M Natsir dari sisi lain. Kenapa penyelenggaraan ini dilaksanakan di Unsoed? Karena paling tidak ada tiga nama dalam sejarah Indonesia modern yang mengacu pada persatuan bangsa. Jenderal SUdirman, Syafruddin Prawiranegara dan M Natsir.

Mengapa Natsir sangat penting dalam sejarah modern Indonesia, karena
Natsir bersikap, “Jangan biarkan Kezaliman berlalu tanpa kritik.
Kalau kejadiannya 58 tahun lalu.

Sikap Natsir yang patut menjadi Teladan bagi generasi muda saat ini adalah, figur pemersatu bangsa dimana beliau selalu bisa menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Selain itu Natsir figur konstitusionalis. Sosok yang taat azas. Itu diperoleh karena ketulusan, Natsir figur yang mempunyai penghayatan kokoh dan mendalam dibuktikan dalam kehidupan yang berbudaya dan toleran. Karena tahu ukuran dan kemampuan diri. Ketiga pembicara sepakat implementasi nilai-nilai di atas dimulai dari diri sendiri dengan memilih pemimpin yang memiliki visi dan bersih, integritas dan kredibilitas.

Sementara itu di tempat yang lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, pemerintah mengakui jasa-jasa besar yang telah diperbuat M Natsir terhadap bangsa dan Negara. Salah satu dari jasanya yang tidak akan pernah dilupakan dan yang harus dicatat dalam sejarah adalah mengembalikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Mosi Integral.

Pengakuan tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa pada puncak peringatan Refleksi Seabad M Natsir, Pemikiran dan Perjuangannya, di Hotel Bidakara Jakarta, Jum’at (18/7) malam.

Peringatan Seabad M Natsir tersebut diawali dengan pembacaan kitab suci al- Quran, lagu Indonesia Raya yang dipandu gesekan biola Idris Sardi. Dilanjutkan laporan Ketua Panitia Nasional Seabad M Natsir, Laode Kamaluddin, pembacaan puisi tentang Natsir oleh Taufik Ismail dan sambutan Hatta Radjasa mewakili Presiden.

Para Menteri yang tampak hadir antara lain adalah Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Wakil Ketua MPR AM Fatwa dan Moeryati Soedibyo, tokoh atau pemuka masyarakat Minang di Jakarta Emil Salim, Tarmizi Taher dan Taufik Abdullah, dan keluarga besar M Natsir. Terlihat juga sejarawan Des Alwi, dr Sulastomo dan Faisal Baasir.

Presiden dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Hatta Radjasa mengakui bahwa M Natsir adalah guru bangsa dan Negara yang terhormat, yang memiliki jasa yang sangat besar terhadap bangsa ini. Sangat besar jasanya dalam mengembalikan NKRI. Melalui mosi integralnya, Natsir berhasil mengembalikan NKRI hingga saat ini,” kata Presiden.

Presiden Yudhoyono juga memuji sikap dan prilaku M Natsir, baik sebagai seorang politisi, negarawanan, tokoh agama, cedikiawan, dan budayawan. Karena itu presiden mengajak semua komponen bangsa, termasuk kalangan politisi sekarang ini mencontoh dan meneladani sikap dan prilaku M Natsir yang santun dalam tutur kata, arif dalam berpolitik dan tidak sekalipun dia mengungkapkan kata-kata kasar dan apalagi menghujat.

Meski menyampaikan pujian terhadap perjalanan kehidupan M Natsir, presiden tidak menyinggung sama sekali tentang usulan pengangkatan M Natsir sebagai Pahlawan Nasional. Kecuali Taufik Ismail di akhir pembacaan pusinya, bahwa M Nastir sudah lebih dari layak untuk diberi penghargaan oleh pemerintah, yaitu sebagai Pahlawan Nasional.

Hanya Presiden menyarankan perlu dilakukan suatu kajian tentang peranan M Natsir agar tidak terjadi kesimpangsiuran dan kesalahpahaman dalam menilai peran Natsir tersebut.

Taufik Ismail dalam puisinya bertutur, bahwa setiap pemimpin mulai dari presiden, politisi dan tokoh masyarakat memiliki karakter masing-masing. Tetapi karakter dan kearifan M Natsir tidak ada duanya. M Natsir lebih mendahulukan sikap bijak dan kearifan dalam setiap langkah yang akan dia tempuh,” ujar Taufik.

Sementara itu ketua panitia Refleksi Seabad M Natsir, Laode Kamaluddin melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan panitia selama 8 bulan terakhir, seperti mengadakan diskusi-diskusi tentang pemikiran dan perjuangan Natsir di sejumlah perguruan tinggi, seperti UIN Jakarta, Universitas Islam Yogykarta, Universitas Islam Riau, Universtas Islam Bandung dan sejumlah kegiatan lainnya dalam mensosialisasikan pemikiran Natsir. “Agar kita tidak melupakan Natsir dan  meneruskan cita-citanya sehingga Indonesia kembali berwibawa,” katanya.
Harapan itu tentu milik kita juga. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.

Eman Mulyatman
Laporan Adhes Satria

Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

MUI Menjadi Target

Laporan TII menyebutkan MUI lembaga paling sering disuap. Penelitian dibiayai asing?

Transparency International Indonesia (TII) dalam laporannya yang berjudul Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2008 dan Indeks Suap,  mengatakan bahwa MUI salah satu lembaga paling sering menerima suap versi TII. Dugaan suap-menyuap ini lebih banyak dilakukan untuk pengurusan sertifikat halal.

Menurut Manajer Riset dan Kebijakan TII, Franky Simanjuntak, 171 responden yang diwawancarai adalah perusahaan makanan dan kosmetik. Sebanyak 10 persen mengaku pernah dimintai uang terkait urusan mereka.
“Sehingga ini sangat berkaitan bagaimana perusahaan ini mengajukan sertifikat halal,” katanya saat jumpa pers di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan, Rabu (21/1).
Survei kuantitatif itu dilakukan September-Desember 2008 di 50 kota yang terdiri dari 33 ibukota provinsi ditambah 17 kota besar.
Lebih lanjut Franky menjelaskan, inisiatif terjadinya suap-menyuap berasal dari pejabat publik. Mau tidak mau, pelaku bisnis terkadang harus mengikuti. “Namun tetap saja ini dikategorikan suap,” tegas Franky.
Franky tidak terlalu mengetahui apakah survei yang dilakukannya itu bisa dilanjutkan kepada pihak berwenang. Baginya, survei itu hanyalah sebagai acuan. “Ke arah sana (penyidikan-red), di luar otoritas hasil survei,” katanya.
Sehubungan temuan TII, MUI menggelar jumpa pers beberapa waktu lalu (19/2) di Sekretariat MUI di Jakarta. Siang itu, Ketua MUI Amidhan didampingi Nadratuzaman Husein (Direktur LP POM MUI), Nazri Adlani, Said Budairi, Aisyah Amini, Wahidin Adam dan Osmena Gunawan.
Menurut salah seorang Ketua MUI, Amidhan, jumpa pers ini menjadi penting, mengingat pemberitaan hasil survei itu merebak di media massa, sehingga banyak MUI di daerah-daerah yang menanyakan kepada MUI Pusat, kenapa diam saja atas tudingan tersebut.
“Dimasukkannya MUI sebagai salah satu target penelitian adalah sangat bias (melenceng) dan tendensius, karena kontradiktif dengan metode penelitian yang ditetapkan TII sendiri,” jelas Nadratuzaman Husein saat membacakan realese.
Dalam hasil penelitian TII, responden yang menyatakan berinteraksi dengan MUI sebanyak 177 responden dari 3.841 responden. Jumlah 177 responden itu secara rinci meliputi beberapa sektor, yakni: pertanian, pertambangan dan penggalian; industri; penyedia listrik-gas dan air bersih; konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran; transportasi dan komunikasi; institusi keungan serta jasa pelayanan.
Dari 11 kelompok responden tersebut, tidak jelas kelompok responden mana yang berhubungan dengan proses sertifikasi halal MUI. Dengan demikian, penelitian TII tidak tepat sasaran. Sehinggga kesimpulan yang menyatakan bahwa indeks suap MUI sebesar 10 persen (17 responden) tidak valid. Apalagi, jika angka 17 responden tersebut dikaitkan dengan 3.841 jumlah total responden.
“Hal ini semakin meyakinkan bahwa survei yang dilakukan TII sangat tendensius dan mencederai kaidah-kaidah ilmiah,” tukas Nadra.
Yang membuat pengurus MUI terkejut adalah seputar pertanyaan dalam survei ini: Kira-kira berapa kalikah Anda melakukan interaksi (kontak langsung dengan pejabat publik) dalam 12 bulan terakhir ini? Dalam semua interaksi ini, apakah pegawai/pejabat pemerintah minta sumbangan, suap, bayaran, atau hadiah (dalam bentuk apa pun, termasuk tiket pesawat/hotel dan sebagainya) untuk pelayanan umum yang diberikannya? Berapa banyak yang harus dibayarkan dalam setiap transaksi? Responden diberi pilihan angka Rp 500 ribu – 100 juta.
Mengenai tiket pesawat dan hotel, yang oleh TII,  termasuk ke dalam bentuk suap dalam hal pelayanan sertifikasi, Nadra menjelaskan, hal tersebut tidak benar, karena tiket pesawat dan biaya hotel sudah termasuk ke dalam komponen biaya proses sertifikasi halal.
Sehingga tidak terdapat aliran dana yang dinikmati oleh perseorangan di LP POM MUI. Dengan begitu, fakta yang disebutkan dalam publikasi TII tidak sesuai dengan indikator yang telah ditentukan oleh TII.

Menyeret Isu SARA
Franky Simanjuntak (Manajer Riset TII), dalam pernyataannya yang dimuat di berbagai media massa telah menjadikan persepsi sebagai dasar untuk menyatakan bahwa praktik suap telah terjadi di MUI.
“Pernyataan tersebut jelas fitnah. Informasi yang menyesatkan. Hal ini telah merugikan nama baik MUI, menyakitkan serta menimbulkan kegelisahan jajaran MUI di seluruh Indonesia dan mengarah pada isu SARA. MUI mendesak agar TII segera menarik pernyataan tersebut dan dipublikasikan pada media massa yang sama,” tegas Amidhan.
Yang membuat MUI ‘gerah’ adalah ketika TII melakukan sosialisasi di beberapa tempat, setidaknya ada 8–10 titik di seluruh Indonesia. Bagi media, tentu bad news is good news. Maka terjadilah blow up oleh media massa. Majalah Tempo misalnya, membuat judul: MUI Paling Sering Disuap.
MUI sempat memanggil TI-Indonesia yang diketuai oleh Todung Mulya Lubis, untuk berdiskusi sekaligus minta klarifikasi. Franky Simanjuntak yang diundang MUI tidak datang. Bahkan, Amidhan sempat mengancam somasi Franky yang dalam pemaparannya memfitnah MUI.
Amidhan khawatir, persoalan ini akan melebar menjadi isu SARA, mengingat Franky Simanjuntak adalah seorang penganut Nasrani. “Yang jelas, TII dibiayai asing, mereka punya agenda tertentu untuk menjadikan MUI sebagai target.,” kata Amidhan.
Menurut Aisyah Amini, Sebenarnya, kalau berbicara sertifikasi halal adalah LPPOM, tapi penelitian itu menggenarilisir MUI. “Tapi, LPPOM MUI tidak menerima suap,”  tegasnya.
Bagaimana sebetulnya proses pembuatan sertifikasi halal yang transparan, mengingat LP POM MUI dituding menerima fasilitas hotel dan pesawat? Direktur LP POM MUI Nadratuzaman Husein menjelaskan, di LP POM MUI ada kode etik tersendiri dalam membuat sertifikasi halal. Untuk audit, tidak ada dana tambahan, dan ada larangan untuk memberi apa pun kepada auditor. Di surat tugas bahkan dicantumkan, auditor harus bekerja sesuai dengan syariat Islam dan mematuhi kode etik auditor, dengan tidak menerima hadiah apa pun dari klien.
Banyak orang mengira, LP POM MUI bertahan karena mendapat bantuan dana dari APBN. Padahal nyatanya, tidak ada dana dari APBN. Hingga ada yang mengusulkan LP POM diperiksa oleh KPK.
“Kami ini volunteer semua. Mereka kebanyakan dosen dari IPB, UI, yang sudah punya income, tapi mereka mau berkhidmat untuk membantu MUI. Kami sadar, ulama itu warasatun anbiya yang harus dihormati. Jangan sampai ulama di MUI rusak gara-gara LP POM jika benar menerima suap. Kalau itu terjadi, lebih baik LP POM bubar saja,” kata Nadra.
Suatu keharusan, laporan auditor akan disampaikan ke komisi fatwa, minimal dihadiri 30 dari 50 anggota komisi fatwa. “Jadi, kalau mau nyogok, sogoklah 50 orang anggota komisi fatwa, atau sogoklah semua auditor LP POM MUI. Yang jelas, kami ingin jaga nama baik MUI LP POM bisa berkembang karena ada trust (kepercayaan),” jelas Nadra.

Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Mendidik Anak di Era Digital

Sekarang hal-hal berbau porno tak cuma disebarkan tapi dibenamkan ke dalam otak anak kita

Pada mulanya, komputer adalah benda asing yang hanya bisa dijalankan segelintir ahli. Jika kemudian ia menjadi perangkat yang demikian populer, itu adalah berkat orang bervisi terang dan unik akan apa yang dapat dilakukan komputer. Orang itu adalah Douglas Engelbart.

Sebagai sebuah alat, komputer memang benda netral. Persoalannya sekarang mau tidak mau kita sedang memasuki era digital. “Revolusi Digital” begitu orang mengatakannya. Sebaliknya, era kertas sudah memasuki babak akhirnya. Kita diperintahkan Nabi saw agar mendidik anak sesuai dengan zamannya.

Dalam sebuah seminar dengan tema: Menyiapkan Anak Tangguh di Era Digital, Elly Risman Musa memaparkan fakta-fakta berkaitan dengan fenomena pornografi pada anak usia Sekolah Dasar (SD).

”Anak kelas 4-5-6: 1 dari 2 anak melihat pornografi di rumah, 1 dari 3 yang nonton berkomentar biasa saja perasaannya menonton itu,” ungkapnya.

Biasa saja alias sudah biasa. Sejauh itukah pornografi merasuki anak-anak kita. Pornografi tidak hanya ada di internet, TV, CD, dan DVD.  Komik-komik Jepang ada yang betul-betul porno. Sekarang, handphone tak kalah dahsyatnya. Termasuk SMS tentunya.

Dalam seminar itu Elly Risman juga menampilkan potongan-potongan sinetron Indonesia yang menyajikan pornografi. Bahkan sinetron itu diputar siang hari. Seperti menampilkan pesta seks anak SMA berseragam.

Keadaan memang mencemaskan dan membuat kita sebagai orang tua geregetan pada orang-orang yang hanya memikirkan cari uang dari film-film panas.

Anak laki-laki menjadi target utama industri pornografi, usia kelas 4-5-6 (anak yang belum baligh). Ternyata penjahat pornografi itu sudah berpikir jauh melampaui langkah para orang tua dalam mendidik anak.

Mengapa sedini mungkin dijadikan target. Tujuannya agar mereka menjadi target masa depan pasar pornografi mereka. Sehingga akhirnya akan menjadi pecandu pornografi seumur hidup.

anak yang sejak kecil akrab dengan porno akan memiliki mental model porno. Otaknya menjadi piktor alias pikiran kotor. Porno menjadi way of life, mau berbuat apa saja berdasarkan otak ngeresnya itu. Maka otaknya menjadi rusak permanen.

Masya Allah. Sering kita lihat baliho film-film dengan judul nyerempet-nyerempet. Buruan Cium Gue (BCG), Married By Accident (MBA), Making Love (ML), DO, Kawin Kontrak, dan lainnya.

Sayangnya kita menganggap itu sebagai hal yang jauh. Tidak akan menimpa keluarga kita. Aman.

Padahal dengan siapa anak kita bergaul di sekolah? Apa isi HP anak kita. Apakah kita punya waktu untuk menemaninya berselancar di ruang maya. Apa game online-nya, situs internetnya?

Mari kita lihat lagi apa yang telah kita lakukan. Sudahkah kita hidup
dalam adab Islam? Menutup aurat, memisahkan tidur anak dari orang tua, mendidiknya tentang dirinya (mani, madzi, cara bersuci aurat, dan lain-lain), melihatnya sebagai titipan Allah,

Menurut psikolog Elly Risman, membiarkan anak hidup sendiri dalam era digital tanpa bimbingan sama halnya melepas anak di kandang macan. “Jika hal ini dibiarkan, maka akan merusak psikis, fisik, dan moral anak,” ujarnya.

Solusinya, masih menurut Elly Risman, jelaskan dampak negatif era digital terhadap anak  dengan cara tanamkan pondasi agama yang kuat terhadap anak, berikan alternatif permainan yang lebih menantang, luangkan waktu untuk melakukan aktivitas dengan anak dan buatlah hidup mereka lebih bermakna.

Oleh: eman mulyatman | 2 Maret 2009

Risalah yang Terpercaya

Sejak 14 abad silam Muhammad bin Abdullah seorang nabi yang umi telah berseru di Makkah di atas bukit Shafa. Bahasa dakwah di zaman Nabi saw dan kini relevan dan aplikatif

“Hai sekalian manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian. Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, seorang nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS al-A’raf [7]:158)

Dakwah yang integral itu merupakan garis pembatas di alam semesta ini, pemisah antara hari kemarin yang gelap gulita dan masa kini terang benderang. Antara kejelekan dan indah sejahtera. Antara kebodohan masa lalu dan masa depan yang cemerlang.

Dia juga merupakan proklamator yang mendeklarasikan sebuah system baru yang menyempurnakan. Pencetus syariatnya adalah Allah SWT sendiri, Zat yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.

Muballighnya adalah Muhammad sang pemberi kabar gembira dan ancaman. Kitabnya adalah al-Qur’an yang jelas dan terang. Kiab yang tidak ada keraguan. Para jundi-Nya adalah kaum Muhajirin dan Anshar dan siapa saja yang ber-ittiba’ kepada mereka secara ihsan. Sistem itu bukan produk manusia, melainkan shibghah Allah SWT. Adakah pola yang lebih baik dari pola yang dicetuskan-Nya?

“Sebelumnya kaummu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) itu, dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu sebagai cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa-siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar menunjukkan kepadanya jalan yang lurus, (yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang di langit dan apa yang di bumi. Ingatlah, kepada Allah-lah kembalinya segala urusan.” (QS asy-Syura: 52-53)

Manhaj al-ur’an dalam perbaikan social

Al-Qur’an adalah kitab yang sarat dengan asas-asas perbaikan social yang syamil (utuh, menyeluruh) sejak awal diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Al-Qur’an mendeklarasikan asas-asas itu dari waktu, sesuai dengan waqi’ (realitas) yang ada.

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu dating kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami daangkan kepadamu suatuyang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (QS al-Furqon 32-33)
Sungguh Allah telah mengumpulkan untuk ummat ini sebuah penjelasan bagi segala sesuatu, termasuk di dalamnya asas-asas perbaikan sosial yang sempurna. Asas-asas tersebut adalah:

1.    Rabbaniyah, jauh dari kepentingan rendah manusia yang bersifat egois, narsis dan individual. Sebaliknya justru bertujuan untuk menempatkan manusia kepada keadaannya yang paling mulia di antara mahluk-mahluk Allah lainnya dalam sebuah harmoni sosial yang sempurna. Karena sifatnya ini, manhaj al-Qur’an juga tidak mengingkari fitrah manusia dan menyelamatkan manusia dari bahaya.
2.    Ketinggian Kualitas Jiwa Manusia. Manhaj ini mengantarkan manusia kepada sifat-sifat mulia yang mendapatkan penghargaan yang tinggi dari Rabb-nya. Dengan ketinggian kualitas jiwa yang dicapainya, seorang manusia tidak akan lagi terjebak kepada kepentingan sesaat yang fana dan egois karena mengharapkan ibalan kemuliaan yang ukurannya di luar ukuran duniawai.
3.    Penegasan terhadap keyakinan adanya jaza’ (balasan) atas setiap amal. Manhaj ini menegaskan bahwa manusia memang berhaknatas imbalan atau jaza’ atas apa yang diperbuatnya, baik atau buruk. Namun manhaj ini memeperluas batasan jaza’ ke waktu yang lebih pasti. Keadilan pasti tegak karena hakim pada hari itu adalah Hakim yang Maha Agung dan Maha Adil.
4.    Deklarasi Ukhuwah antar sesama Manusia. Manhaj al-Qur’an ini mengandung deklarasi ukhuwah yang tidak pernah ada dalam risalah agama lain. Dengan konsep ukhuwah ini setiap manusia diberi bingkai bagaimana bersikap kepada setiap insan sesuai dengan keadaan masing-masing. Deklarasi ini tidak tertipu dengan ikatan-ikatan duniawi yang ditakdirkan Allah sebagai ujian dunia yang tidak seharusnya dipatuhi jika ikatan tersebut membahayakan akhirat seseorang.
5.    Bangkitnya laki-laki dan perempuan secara bersama-sama, mengumumkan adanya takaful dan emansipasi serta menetapkan tugas masing-masing secara rinci dan adil.
6.    Jaminan sosial akan hak hidup, pemilikan, lapangan kerja, kesehatan, kebebasan, pengajaran dan keamanan serta menentukan sumber-sumber penghasilan.
7.    Penentuan 2 macam gharizah (kecenderungan), memelihara jiwa dan memelihara keturunan serta mengatur berbagai tuntutan terkait dengan makanan dan pemenuhan kebutuhan seksual.
8.    Tegas dalam memerangi berbagai tindak kriminal.
9.    Penegasan akan pentingnya wihdatul ummah dan mengikis habis semua bentuk perpecahan. Dalam konsep Qur’ani ini, persatuan didahulukan bahkan dicontohkan oleh para sahabat, hal ini lebih didahulukan daripada  pengurusan jenazah Rasulullah saw. Contoh yang diberikan Rasulullah saw sendiri adalah dengan mempersaudarakan 2 musuh bebuyutan Aus dan Khazraj.
10.    Mewajibkan umat untuk berjihad. Tak ada gunanya kemenangan fikrah jika tidak dibarengi dengan kemenangan faktual (fisik). Tidak mungkin kemenangan itu terpelihara jika tidak dijaga oleh kekuatan pasukan yang ikhlas. Konsep jihad sekali lagi membuktikan ke-syamilan manhaj Qur’ani ini.
11.    Menjadikan daulah sebagai sarana bagi perwujudan dan pemeliharaan fikrah. Bertanggungjawab mewujudkan sasarannya di masyarakat dan mentransformasikannya kepada sekalian manusia.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.